🔥 MEMBANTAH UCAPAN BATHIL BAHWA AKAL ADALAH ALAT NO SATU UNTUK MEMAHAMI ISLAM BUKAN ALQUR'AN DAN SUNNAH !!!
Betapa banyak di negeri ini para ngustadz (baca: merasa jadi ustadz) yang tidak memiliki bekal ilmu, namun sudah berani tampil menjadi rujukan dalam beragama. Sehingga cinderung semakin menyesatkan kaum muslimin dengan kejahilan mereka dalam agama.
Diantaranya adalah ngustadz Cak Nun hadahullah. Sang seniman yang yang menolak turunnya malam lailatul qadar yang pada hakekatnya juga menolak hadit's-hadit's Nabi ﷺَ terkait berita turunnya malam lailatul qadar di salah satu malam di bulan ramadhan.
Betapa banyak dan tidak akan ada habisnya jika kita mau membantah satu persatu bukti kerusakan para para pengusung kesesatan semisal Cak Nun Hadahullah ini. Namun setidaknya kita harus mengetahui garis besar kerusakan darinya terkhusus masalah aqidah.
❎ Diantara kerusakan aqidah orang ini ialah menomersatukan akal sebagai ALAT UNTUK MENJADI ORANG ISLAM (memahami islam).
Kata Ngustadz Cak Nun hadahullah :
"..... Makanya no satu itu alat untuk menjadi orang islam itu Bukan Qur'an !!!
Bukan Syariat !!!
Bukan Fiqih !!!
Bukan Hadit's !!!
Tapi AKALMU !!! ......."
Subhanallah betapa jahil dan berbahaya orang ini !!!
⚠️ Bila akal di nomer satukan, bukankah dengan akal manusia bisa mengeluarkan pendapat, ide dan gagasan yang berbeda-beda ???
Bahkan akan menimbulkan perselisihan ???
✅ Maka lihatlah ketika terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat maka Allah Azza Wa Jalla memerintahkan agar kembali pada kitabullah dan sunnah.
❎ BUKAN AKAL MASING-MASING !!!
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
" Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya." (QS.An-Nisa/4:59)
✅ Bahkan sahabat Ali رضي الله عنه berkata,
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ
“Seandainya agama dengan logika (akal), maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud 162)
✅ Juga terkait syariat islam yang lainnya. Apabila ditimbang dengan akal jelas tidak akan mengena...
Contoh sederhana:
(1)...
" Seseorang yang berwudhu lalu mengeluarkan hadas kecil (buang angin). Bila akal yang di jadikan timbangan MAKA SEHARUSNYA YANG DI BASUH BUKAN TANGAN , WAJAH DAN AGGOTA WUDHU YANG LAINNYA, TAPI TEMPAT KELUARNYA HADAS (DUBUR) "
(2)...
" Bila akal yang menjadi timbangan maka seharusnya seseorang yang buang air kecil (kencing), lebih layak untuk mandi Janabah di banding orang yang mengeluarkan air mani (sperma). KARNA AIR KECING HUKUMNYA NAJIS SEDANGKAN AIR MANI TIDAK NAJIS "
Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya yang membantah ucapan bathil orang-orang yang memiliki pemahaman serupa dengan Mu'tazillah yang lebih mengedepankan akal di banding Al-Qur'an dan Sunnah.
Wallahul Musta'an.
Chanel GDS
📶 https://t.me/GroupDakwahSalafiyyahGDS/946

Komentar
Posting Komentar